Rabu, 12 Maret 2008

Sinusitis, Bukan Sekadar Hidung Mampat

SAKIT kepala dan cairan yang keluar terus-menerus dari hidung merupakan dua gejala yang biasa terjadi ketika seseorang menderita influenza. Namun, jika gejala tersebut tidak kunjung sembuh, bahkan cairan rongga hidung sudah berubah tidak lagi bening dan encer tetapi menjadi kuning, hijau, bahkan kental, ini indikasi saatnya Anda harus memeriksakan diri ke dokter. Gejala tersebut bukan saja menunjukan flu yang bertambah parah, tapi ada kemungkinan Anda menderita sinusitis.

"Kalau sering pilek, pusing di sekitar alis, demam, tidak bisa membaui, serta cairan berwarna kuning sampai hijau dari hidung mengalir ke belakang tenggorokan, maka harus diwaspadai seseorang terkena sinusitis. Warna lendir merupakan petanda telah terjadi infeksi," ujar Dokter Spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Dr Widayat Alviandi, SpTHT, beberapa waktu lalu di Jakarta. Bahkan bila seseorang mulai merasakan nyeri di sekitar rongga hidung, menurutnya, itu merupakan salah satu pertanda sinusitis sudah berada pada tahap akut.

Sinusitis adalah radang selaput dinding atau mukosa sinus, yaitu radang yang terjadi pada ruangan-ruangan dalam tulang wajah atau muka di sekitar hidung. Kejadian sinusitis dimulai dengan membengkaknya dinding dan lubang sinus, mukosa saling mendekat, sehingga kemudian diikuti dengan gangguan pada silia atau rambut halus yang bergerak-gerak untuk mengalirkan lendir keluar sinus. Oleh karena silia terganggu, lendir kemudian menumpuk, menjadi lebih kental, dan kemudian mengundang kuman serta bakteri datang untuk tumbuh dengan subur.

Bila hal ini terus berlangsung, maka akan terjadi hipoksia dan retensi lendir. Tahap selanjutnya adalah perubahan jaringan menjadi hipertrofi, polipoid atau terjadi pembentukan polip dan kista. "Jadi, penyebab sinusitis yang paling utama adalah bakteri dan kuman," katanya. Seseorang dapat mendeteksi sinusitis dari rasa nyeri yang timbul ketika pipi kanan, kiri, atau kedua-duanya, serta wilayah di atas hidung ditekan.

Menurut situs ilmu kedokteran, sinus terbagi atas sinus maksila, etmoid, frontal, serta sfenoid. Dalam hal ini sinus maksila paling sering diderita karena merupakan sinus paranasal terbesar akibat letak ositumnya yang lebih tinggi dari dasar, sehingga aliran pengeluaran hanya tergantung dari gerakan silia. Ostium sinus maksila bentuknya lebih sempit sehingga mudah tersumbat yang kemudian menyebabkan lendir menumpuk. Penyebab terbanyak dari sinusitis jenis ini adalah akibat dari dari akar gigi yang terinfeksi.

Menurut Widayat, penyebab sinus selain bakteri dan kuman, faktor luar juga dapat memicu. Di antaranya seperti alergi, gangguan geligi, serta masuknya benda asing. Tidak hanya itu, sinusitis juga bisa disebabkan oleh lingkungan yang berpolusi serta udara dingin dan kering yang dapat mengakibatkan perubahan pada mukosa serta kerusakan pada silia.

Sinusitis ternyata tidak hanya "menginvasi" rongga hidung dan ruangan-ruangan dalam tulang wajah atau muka di sekitar hidung, tetapi sinusitis dalam tahap yang sudah akut dapat pula menjalar hingga ke telinga. "Sinusitis yang akut malah bisa mengalirkan cairan dari hidung ke telinga, nah jika cairan ini sampai menginfeksi telinga maka bisa terjadi congek," katanya.

Untuk pengobatannya, menurut Widayat, sinusitis tidak bisa ditangani sendiri, harus ditangani dokter. "Yang terbaik adalah segera ke dokter untuk mendapatkan pengobatan dengan resep dokter," katanya. Untuk mengobati sinusitis, dokter biasanya memberikan antibiotik dosis penuh untuk 10 hingga 14 hari atau obat dekongestan lokal berupa tetes hidung dengan waktu terbatas 5 hingga 10 hari. Namun, bila pengobatan ini tidak banyak menolong, maka diperlukan pencucian hidung.

Apabila setelah 2-3 kali pencucian, infeksi belum juga sirna, maka mungkin diperlukan tindakan antrostomi intranasal. Antrostomi yaitu membuat hubungan atau lubang di bawah pangkal konka inferior, sehingga ada hubungan langsung antara sinus maksilaris dengan cavum nasi supaya pengaliran lendir atau sekret menjadi lebih baik. Tetapi, bila pengobatan konservatif tidak berhasil juga maka terpaksa dilakukan tindakan radikal berupa operasi Cadwell-Luc. Tindakan operasi sinus ada juga yang dilakukan dengan menggunakan endoskop yang disebut dengan Bedah Sinus Endoskopik Fungsional.

"Tetapi pada prinsipnya lakukan dulu semua pengobatan yang diperlukan, jika tidak sembuh-sembuh maka mau tak mau memang harus dioperasi. Tetapi, sebelum dioperasi perlu diketahui dulu pemicu sinusitis itu apa," tuturnya. Dalam hal ini, pemicu sinusitis perlu diketahui mengingat penyebab sinusitis tidak hanya berasal dari rongga hidung saja.

Widayat menambahkan, meskipun sinusitis sudah dinyatakan sembuh, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk kambuh kembali. Maka dari itu, guna menghindari sinusitis datang sebisa mungkin aliran silia mukosa sinus dijaga agar tidak rusak.

Menurut Widayat kunci terbaik adalah dengan menjaga daya tahan tubuh. Ada baiknya penderita dan mereka yang tidak ingin terkena sinusitis rajin memeriksakan kesehatan gigi, karena salah satu penyebab sinusitis adalah infeksi gigi terutama gigi graham bagian atas. "Disarankan juga setiap kali menderita pilek baik itu yang disebabkan oleh alergi atau sakit, jika sudah mendera lebih dari tiga hari ada baiknya langsung menghubungi dokter," katanya.


sumber by : Nunik Triana, Jurnal Nasional

Tidak ada komentar: